Hangat yang Terselip di Beranda
Rasa itu datang seperti tamu tak diundang...
hanya karena satu video tentang keluarga
yang lewat sebentar di beranda.
Namun entah mengapa,
ia menetap lama di dada.
Ada hangat yang pelan-pelan mencairkan kerasnya hari.
Ada haru yang tak sempat menjadi air mata,
namun cukup membuat pandangan kosong menatap layar lebih lama.
Dan ada sedih...
bukan karena kehilangan,
melainkan karena tersadar.
Tersadar bahwa selama ini
mata dan telinga terlalu sering kuberi suguhan yang riuh,
yang gemerlap,
yang membuat kagum sesaat lalu hampa.
Kekayaan dipertontonkan seperti ukuran bahagia.
Kecantikan dipoles seolah standar nilai manusia.
Kemewahan dijadikan tujuan,
seakan hidup hanyalah tentang terlihat keberhasilan.
Di tengah semua itu,
cerita tentang keluarga terasa seperti oase.
Sederhana, namun menenangkan.
Tak berisik, tapi menghidupkan.
Dan perlahan aku menyadari,
budaya yang dulu diingatkan guru-guru untuk dijaga,
nilai yang diajarkan agar tetap menjadi diri sendiri,
sedikit demi sedikit tergerus...
bukan oleh paksaan,
melainkan oleh kebiasaan.
Tanpa sadar,
aku mulai mengagumi apa yang seharusnya kusaring.
Mulai mengikuti apa yang dulu diajarkan untuk kupahami dengan hati-hati.
Mungkin bukan dunia yang terlalu keras.
Mungkin aku saja yang terlalu lama menatap layar,
hingga lupa bahwa kehangatan sejati
tidak pernah butuh sorotan.
Ia hanya butuh hadir.
Dan disadari.
Komentar
Posting Komentar