Jalsahtul Itsnain Majelis Rasulullah SAW - Ustad Ridho Abdul Fattah


1. Peringatan tentang Al-Qur'an yang Terasing (Al-Qur'an Mahjura)

Pembahasan utama berfokus pada Surah Al-Furqan Ayat 30, di mana Rasulullah SAW mengadu kepada Allah: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur'an ini sesuatu yang tidak diacuhkan (mahjura)."

  • Definisi Mahjura: Mengutip Sayyidina Imam Muhammad Mutawalli Sya’rawi, hajara berarti memutus hubungan (qath’us silah). Secara bahasa, bentuk kata yang digunakan menunjukkan bahwa umatlah yang meninggalkan Al-Qur'an, bukan Al-Qur'an yang meninggalkan umat.

  • Kritik Sosial: Penceramah menyentil fenomena di mana Al-Qur'an hanya menjadi simbol kesakralan. Contohnya, Al-Qur'an dijadikan mahar pernikahan (seperangkat alat salat dan mushaf), namun setelah akad, mushaf tersebut hanya disimpan di lemari hingga berdebu dan terlupakan.

  • Gangguan "Setan Gepeng": Istilah ini digunakan untuk merujuk pada ponsel (smartphone). Penceramah menekankan bahwa umat saat ini lebih betah berlama-lama membuka aplikasi TikTok, toko daring (Shopee/Tokopedia), atau aplikasi judi online dibandingkan membuka aplikasi Al-Qur'an yang terinstal di ponsel yang sama.

2. Rahasia Kemuliaan Para Sahabat: Irtibat (Keterikatan) dengan Al-Qur'an

Penceramah menjelaskan bahwa kejayaan umat terdahulu bukan karena jumlah personil, melainkan kedekatan dengan Al-Qur'an.

  • Kisah Rib’i bin Amir vs Rustum (Perang Qadisiyah): Saat diperintah Jenderal Rustum (Persia) untuk menghadap, Sahabat Rib'i bin Amir datang dengan sangat percaya diri dan tanpa rasa takut. Ia menyatakan visi kaum muslimin dengan tegas: "Kami datang untuk mengeluarkan hamba Allah dari perbudakan sesama hamba menuju perbudakan yang hakiki kepada Allah".

  • Suara Lebah di Malam Hari: Mata-mata Persia melaporkan bahwa pasukan Muslim di malam hari melakukan ritual (salat malam) sambil membaca Al-Qur'an, di mana suara mereka terdengar seperti dengungan lebah. Rustum menyadari bahwa pasukan yang memiliki hubungan spiritual sekuat itu tidak akan bisa dikalahkan secara fisik.

3. Penyakit Mental Umat Modern: Rasa Takut yang Berlebihan

Penceramah menyoroti bagaimana jauhnya umat dari Al-Qur'an menyebabkan munculnya berbagai ketakutan (fobia):

  • Takut Mati: Diingatkan bahwa bagi seorang mukmin, kematian adalah pertemuan dengan kekasih (Allah dan Rasul-Nya). Ia mencontohkan Sayyidina Bilal bin Rabah yang justru merasa senang saat maut menjemput karena akan segera bertemu Nabi Muhammad SAW.

  • Takut Miskin: Banyak orang bekerja mati-matian hingga meninggalkan kewajiban ibadah karena takut tidak bisa merayakan Lebaran dengan mewah (baju baru, uang persenan untuk tetangga). Penceramah menekankan bahwa mengikuti omongan manusia tidak akan ada habisnya.

  • Takut Isu Dunia (Perang Dunia III): Umat diingatkan untuk tidak terlalu paranoid dengan isu-isu global yang menakutkan, karena perlindungan sejati ada pada Allah.

4. Tiga Jenis Wirid Al-Qur'an yang Harus Dimiliki

Sebagai solusi agar tidak termasuk orang yang meninggalkan Al-Qur'an, penceramah mengajak jamaah untuk meneladani tiga wirid orang saleh:

  1. Wirid Khataman: Target rutin untuk menyelesaikan bacaan (misal seminggu sekali atau sebulan sekali).

  2. Wirid Pemahaman: Tidak berpindah ke ayat selanjutnya sebelum memahami makna ayat yang dibaca.

  3. Wirid Pengamalan: Berusaha sekuat tenaga untuk mempraktikkan isi ayat dalam kehidupan sehari-hari sebelum lanjut membaca lebih jauh.

5. Penutup: Al-Qur'an sebagai Penuntun (Syafi'un Musyaffa)

Ceramah diakhiri dengan hadis yang menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah pemberi syafaat yang diterima pembelaannya.

  • Jika Al-Qur'an diletakkan di depan sebagai penuntun (GPS), ia akan membimbing ke surga.

  • Jika Al-Qur'an diletakkan di belakang (diabaikan), ia akan menyeret pelakunya ke neraka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROXY-ARP DALAM PRAKTIK: APA, MENGAPA, DAN BAGAIMANA

Upgrade Cisco AP C9105AXI-F dari CAPWAP ke EWC (Cisco Embedded Wireless Controller)

CARA INSTALL PNETLAB